sedikit celah;

sedikit celah; layaknya jendela untuk kau lebih jauh mengenalku...

Rabu, 20 Mei 2009

ANALISIS- INDIVIDUAL DIFFERENCES - PERBEDAAN PRIA DAN WANITA

Apakah karakteristik pria dan wanita sebagai berikut?

Karakteristik Pria

Karakteristik Wanita

  • Maskulin
  • Rational
  • Tegas
  • Persaingan
  • Sombong
  • Orientasinya dominasi
  • Perhitungan
  • Agresif
  • Objektif
  • Fisik
  • Feminin
  • Emosional
  • Fleksibel/ plin-plan
  • Kerja sama
  • Selalu mengalah
  • Orientasinya menjalin hubungan
  • Menggunakan insting
  • Pasif
  • Mengasuh
  • Cerewet

Pikologi Pria

Secara fisik pria memang berbeda dengan wanita, demikian pula segi kejiwaannya. Beberapa hal berikut ini menunjukkan sifat-sifat pria pada umumnya adalah:

1. Keberadaan pria berdasarkan pikiran atau rasio yang terbentuk dari pengalaman dan bersifat berbuat. Dalam kehidupannya pria lebih banayk berbuat dan bekerja seringkali “rumahnya” di luar, yaitu di tempat di mana ia bekerja. Berbagai permasalahan kehidupan ia berpegang pada prinsip-prinsip yang rasional yang rasional ketimbang emosional. Oleh karena itu seringkali kritik yang dilontarkan ialah pria kurang mempunyai perasaan.

2. Kalau pun pria mempunyai perasaan, maka perasaan itu merupakan fungsi penolong bagi perbuatan-perbuatan rasionalnya.

3. Dalam hal “iri hati”, pada pria kurang ketimbang wanita.

4. Dalam hal bercinta bersifat “aktif-agresif” sedangkan pada wanita bersifat “pasif agresif”. Pria lebih didorong oleh pemenuhan biologis, sedangkan wanita lebih mengutamakan pemenuhan kasih sayang atensi, perasaan aman dan terlindung (Hawari, 1997).


Psikologi Wanita

Secara garis besar karakter wanita umumnya dapat disebutkan sebagai berikut (dalam hal perbedaan yang menyolok dengan pria):

1. Dalam menghadapi berbagai masalah wanita lebih intuitif ketimbang pria (feeling). Intuisi jauh lebih kuat ketimbang pria, sebaliknya dengan rasio.

2. Wanita mempunyai kemampuan menyesuiakan diri (adaptasi) yang lebih baik ketimbang pria.

3. Dalam hal pengertian “cinta”, wanita lebih menitikberatkan pada segi psikologis, sedangkan pria lebih pada segi biologis.

4. Wanita menyukai hal-hal yang konkret dan kecil-kecil, lain halnya dengan pria lebih menyukai hal-hal yang abstrak dan global sifatnya.

(Hawari, 1997)

Membongkar Kekeliruan Psikologi

Dalam analisis “Dari Psikologi Androsentris ke Psikologi Feminis: Membongkar Mitos-Mitos Perempuan”, Jalaludin Rahmat memaparkan mengenai pensubordinasian perempuan di dalam dunia psikologi yang telah berlangsung sejak ilmu tersebut berkembang. Beliau menggambarkan secara popular bagaimana perempuan menghadapi banyak pendefinisian yang menggunakan standar laki-laki dalam menilai dan “mengukur” perempuan.

Pada tahun 1968, psikolog Naomi Weisstein, setelah melacak literature psikologi pada waktu itu menulis dengan berang, “Psikologi sama sekali tidak membicarakan keadaan perempuan yang sebenarnya, apa yang mereka butuhkan, apa yang sesungguhnya mereka inginkan, karena psikologi memang tidak tahu” (dikutip dari Morgan, 1970:268). Keberangan itu disampaikannya pada sidang The American Studies Association, University of California. Ia memberi judul pada makalahnya “Kinder, Kuche, and Kirche” as Scientific Law: Psychology Construst the Female. Psikologi telah menggambarkan perempuan sebagai makhluk yang kecenderungan psikisnya hanyalah untuk memelihara anak-anak (kinder), memasak (Kuche), dan beribadah (Kirche). Tiga kini yang dianggap sebagai “teori ilmiah” walaupun sebenarnya lahir dari ideology status quo yang ingin mempertahankan keistimewaan laki-laki. “Teori ilmiah” ini sebetulnya hanyalah stereotype. Tapi para psikolog menjustifikasi Kinder dengan mengajukan teori naluri keibuan (maternal instinct). Memelihara anak-anak, menjalankan tugas keibuan (mothering mandate) telah ditentukan secara biologis. Untuk mendukung gagasan bahwa perempuan tidak perlu melibatkan diri dalam kegiatan ilmiah dan bahwa dapur (Kuche) dan gereja (Kirche) adalah tempatnya yang sejati, psikolog menciptakan hipotesis variabelitas. Secara Psikologis, perempuan memang berbeda dengan lelaki. Mereka memiliki kecerdasan yang lebih rendah, struktur otak yang kurang terspesialisasi, dan kepribadian yang lebih emosional dibandingkan dengan lelaki (Rahmat:1994).

Pada masa ketika Weisstein mengemukakan makalahnya, lahir sebuah gerakan untuk meninjau kembali seluruh bidang psikologi. Pada awal 1970-an, kaum feminis memusatkan perhatian pada upaya membongkar mitos-mitos tentang perempuan yang terdapat pada psikologi sebelumnya. Penelitian mereka mengungkap sejumlah kekeliruan dalam psikologi ketika menjelaskan perempuan. Kekeliruan-kekeliruan tersebut ialah:

1. Penelitian psikologi jarang sekali menjadikan perempuan sebagai subyek studi.

Masalah perempuan dianggap kurang penting dibandingkan dengan masalah yang dihadapi oleh lelaki. Seringkali juga studi psikologis sedikit sekali mengambil perempuan atau hanya menggunakan lelaki sebagai sample penelitian dan menggeneralisasikan hasilnya untuk kedua jenis kelamin.

Erikson melahirkan model “the eight stages of man.” Seharusnya saya menerjemahkan sebagai delapan tahap perkembangan manusia atau lelaki. Para psikolog perempuan sudah melihat bahwa teori perkembangan Erikson ini sangat bias kepada lelaki. Saya ingat betapa tersinggungnya saya ketika, sebagai mahasiswa membaca pertama kali teori “the eight of man”…tahap-tahap yang tampaknya tidak pas pada perempuan…sangat mencemaskan…saya tidak mengalami krisis itu seperti urut-urutan yang benar,”kata Carol Tarvis (1992:36) yang dikutip dalam Rahmat (1994). Karena itu saya menerjemahkan teori delapan tahap perkembanan lelaki. Contoh-contoh yang diambil Erikson semuanya lelaki. Di Amerika yang diambil adalah remaja lelaki dari kelompok menengah WASP (White Anglo-saxon Protestans). Di Jerman, yang diambil sample adalah Hitler muda. Dan di Rusia, Maxim Gorky. Jadi seperti Freud, erikson hampir tidak mempelajari perempuan. Ini membawa kita pada kekeliruan yang kedua.

2. Teori-teori psikologi dibangun dengan menggunakan lelaki sebagai norma, dan perilaku perempuan dipandang sebagai penyimpangan.

Banyak teori psikologi –seperti teori motivasi berprestasi (dari McClelland), teori kategori social, teori perkembangan moral –berasal dari penelitian yang menggunakan subyek laki-laki saja. Kalau kenyataan pada perempuan berbeda, kita harus menyimpulkan memang perempuan itu tidak normal. Ada maker diam-diam di antara psikolog bahwa perempuan harus menyesuaikan diri dengan stereotype lelaki.

3. Stereotype perempuan dianggap sebagai gambaran perempuan yang sebenarnya.

Konon perbedaan kecerdasan itu bermula dari perbedaan otak. Lebih dari seratus tahun yang lalu Gustave Le Bon menulis, “…sejumlah besar perempuan mempunyai otak yang ukurannya lebih dekat dengan otak gorilla daripada dengan otak lelaki yang paling maju. Rendahnya (tingkat otak perempuan) ini begitu jelas sehingga tidak seorang pun dapat membantahnya sekarang ini. Hanya masalah tingkat kerendahannya saja yang dapat didiskusikan.” (dikutip daru Gould, 1981:104-105 dalam Rahmat, 1994).

The Differences between a Man and a Woman yang ditulis oleh T.Lang dengan tegas menunjukkan kelemahan kecerdasan perempuan. “harus dinyatakan secara tegas,” ujar Lang, “bahwa pemikiran konseptual hanya terdapat pada intelek lelaki…tapi tidak perlu juga perempuan enggan untuk menyatakan bahwa ia lebih sensitive dalam emosinya dan kurang dikendalikan oleh inteleknya. Kita hanya mengatakan perbedaan yang memang diperlukan untuk peran istimewa yang dimainkan perempuan…Tengkoraknya lebih kecil dari otak lelaki; dan tentu saja juga otaknya. “Betulkah otak perempuan berbeda dengan otak lelaki?” Hipotesis perbedaan otak itu rupanya tidak ditunjang oleh bukti empiris yang kuat. Tapi, inilah salah satu contoh bagaimana stereotype dijustifikasikan dengan penelitian ilmiah dan sekaligus contoh dari kekeliruan keempat (Rehmat, 1994).

4. Perbedaan perilaku perempuan dipandang sebagai akibat perbedaan anatomi dan fisiologi

Seratus tahun yang lalu, para ilmuwan berusaha menunjukkan bahwa ukuran rata-rata otak lelaki lebih besar dari ukuran rata-rata otak perempuan. Belakangan ini diketahui, otak lelaki lebih besar karena berat dan tinggi tubuhnya pun lebih besar. Para ilmuwan kemudian sibuk mencari perbedaan otak lainnya. Dengan gembira mereka menemukan bahwa parietal lobes perempuan lebih besar, tapi frontal lobesnya lebih kecil. Jadi inilah yang menyebabkan perempuan kurang intellectual. Sayangnya, tidak lama setelah itu dilaporkan bahwa justru bagian otak yang ada hubungannya dengan intelek adalah parietal lobes. Akibat logisnya, berdasarkan struktur otaknya perempuan justru seharusnya lebih pintar. Panik melanda laboratorium otak. Sampai sekarang, para ilmuwan berusaha mencari penjelasan tentang perbedaan prestasi ilmiah antara jenis kelamin ini dengan membelah-belah otak dan tidak lagi menimbangnya (Rahmat,1994).

5. Berkenaan dengan psikologi perempuan, para peneliti sering melupakan konteks social yang membentuk perilaku itu.

Greetz, sebagai antropolog, tahu betul bahwa perbedaan perilaku antara dua jenis manusia ini lebih banyak dipengaruhi oleh kebudayaan dari pada oleh factor biologis, oleh konteks social dari pada mekanisme hormonal atau strategi genetic. Kalau daftar panjang hadiah Nobel didominasi oleh lelaki, itu karena lelaki lebih banyak memperoleh peluang pendidikan dari pada perempuan. Bukankah kalau biaya terbatas dan Anda harus memilih apakah menyekolahkan Ujang atau Nyai, Anda akan memilih Ujang? Kalau perempuan menangis, bukan karena mereka lebih emosional, tetapi karena norma-norma social membiarkan perempuan menangis dan “menegecam” lelaki yang menangis. Sebaliknya dari para sosio-biolog, kita akan menemukan bahwa kebudayaanlah –melalui stereotype –telah membentuk perempuan menjadi pasif, melankolis, atau penurut. Dengan sangat menyedihkan, konteks social inilah yang sering dilupakan oleh para psikolog (Rahmat, 1994).

Setelah mengikuti uraian di atas, bisakah kita menyimpulkan bahwa tidak ada perbedaan antara lelaki dan perempuan? Menurut Jalaludin Rahmat “tidak bisa”. Keduanya berbeda dalam dua hal:

1. Berada dalam konteks biologis

2. Berada dalam konteks social

Jenis ditentukan oleh perbedaan biologis komposisi genetic dan fungsi serta anatomi reproduktif. Semua mamalia mempunyai dua jenis: jantan dan betina. Begitu seorang anak manusia lahir, kita segera mengetahui jenisnya –apakah lelaki atau perempuan –dari alat kelaminnya. Tapi, ketika Anda berjumpa dengan seseorang di jalan, Anda tidak dapat mengetahui seseorang itu laki-laki atau perempuan dengan meneliti lat kelaminnya. Terlalu riskan. Anda mungkin akan dikeroyok orang. Dari mana Anda tahu bahwa Ami itu perempuan? Dari pakaiannya, dari caranya mengatur rambutnya, dari gayanya berbicara, dan isyarat dan gerak tubuhnya. Inilah yang disebut gender (Rahmat, 1994).

Selama ini masyarakat di mana kita tinggal lah yang menciptakan sikap dan perilaku berdasarkan gender, yang menentukan apa yang seharusnya membedakan perempuan dan laki-laki. Keyakinan akan pembagian tersebut diwariskan secara turun-temurun, melalui proses belajar di dalam keluarga dan masyarakat, melalui kesepakatan social, bahkan tidak jarang melalui proses dominasi. Artinya, proses sosialisasi konsep gender kadang dilakukan dengan cara halus maupun indoktrinasi. Proses situ menuntut setiap orang (lelaki dan wanita) berpikir, bersikap bertindak sesuai dengan ketentuan social budaya di mana mereka tinggal (Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, 2004). Misalnya ketika Amin dikhitan dan dihadiahi mainan pistol-pistolan yang maskulin sedangkan Rina diikat rambutnya dengan pita kemudian dibelikan mainan boneka oleh ibunya yang menunjukkan penanaman femininitas dan sifat keibuan.

Konsep gender menyebabkan terbentuknya stereotype yang ditetapkan secara budaya atau hal umum tentang karakteristik gender yang spesifik, berupa karakteristik yang berpasangan yang dapat menggambarkan perbedaan gender. Dapat dilihat bahwa hal itu dibentuk saling bertentangan, tetapi karakteristiknya saling berkaitan.

Karakteristik Laki-laki

Karakteristik Perempuan

  • Maskulin
  • Rational
  • Tegas
  • Persaingan
  • Sombong
  • Orientasinya dominasi
  • Perhitungan
  • Agresif
  • Objektif
  • Fisik
  • Feminin
  • Emosional
  • Fleksibel/ plin-plan
  • Kerja sama
  • Selalu mengalah
  • Orientasinya menjalin hubungan
  • Menggunakan insting
  • Pasif
  • Mengasuh
  • Cerewet

Padahal sebenarnya, karakteristik atau sifat-sifat tersebut dapat dipertukarkan, artinya ada laki-laki yang emosional, cerewet, lemah lembut, dan ada pula perempuan yang rasional, sombong, objektif, kuat.

Penafsiran Alqur’an tentang Perbedaan Pria dan Wanita

Kitab-kitab klasik ajaran Islam seperti tafsir, tidak asing kaum laki-laki lebih digambarkan lebih superior dari kaum wanita. Biasanya argument penguatan tersebut adalah Q.S.An-Nisa: 34.

Terjemahan:

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh Karena Allah Telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan Karena mereka (laki-laki) Telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh Karena Allah Telah memelihara (mereka). wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.

“Laki-laki adalah pemimpin atas perempuan, lantaran Allah telah melebihkan sebagian dari mereka atas kebahagiaan.”(pangkal ayat 34). Di sini mulailah diterangkan apakah sebab yang terpenting maka dalam pembagian harta pusaka laki-laki mendapat dua kali bagian dari perempuan, dan mengapa laki-laki yang membayar mahar, mengapa kepada laki-laki jatuh perintah supaya menggauli istrinya dengan baik (Hamka, 1983).

Di dalam ayat ini tidak langsung datang perintah mengatakan wahai laki-laki wajiblah kamu menjadi pemimpin. Atau wahai perempuan, kamu mesti menerima pimpinan. Yang diterangkan lebih dulu adalah kenyataan. Tidak pun ada perintah, namun kenyataannya memang laki-lakilah yang memimpin perempuan. Sehingga kalau datanglah misalnya perintah, perempuan memimpin laki-laki, tidaklah bisa perintah itu diberjalan, sebab tidak sesuai dengan kenyataan hidup manusia. Laki-laki memimpin perempuan, bukan saja pada manusia, bahkan binatang pun (Hamka, 1983).

Diterangkan sebab yang pertama di dalam ayat, ialah lantaran Allah telah melebihkan sebagian dari mereka, yaitu laki-laki atas yang sebagian itu perempuan. Lebih dalam tenaga, lebih dalam kecerdasan, sebab itu lebih pula dalam tanggung jawab. Misalnya berdiri rumah tangga (ayah, ibu, anak). Dengan sendirinya— meskipun tidak disuruh—laki-lakilah, yaitu si ayah yang menjadi pimpinan. Ibarat batang tubuh manusia, ada kepala, ada tangan dan kaki, ada perut. Semuanya penting, tetapi yang kepala tetap kepala (Hamka, 1983).

Agama Islam mewajibkan bagi laki-laki membayar mahar kepada istri yang akan dikawini. Mahar adalah seakan-akan mengandung undang-undang yang tidak tertulis tentang tanggung jawab, bahwa mulai mahar dibayar si istri menyerahkan pimpinan atas dirinya kepada suaminya. Bangsa-bangsa barat mempunyai adat bahwa perempuanlah yang membayar mahar kepada suaminya. Yang juga mengandung undang-undang yang tidak tertulis, bahwa laki-laki menerima mahar istrinya itu, menjadi kewajibanlah baginya membela dan memimpin istri itu, sebab mulai saat itulah ia lepas dari tanggung jawab ayah dan bundanya (Hamka, 1983).

Dalam Q.S.An-Nisa:34 dijelaskan bahwa ada dua alas an mengapa laki-laki (suami) qawamun atas perempuan. Pertama ialah “karena Allah telah melebihkan mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain.” Kedua ialah “karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari sebagian hartanya (Syafruddin, 1994).

Diperlukan penafsiran baru

Apabila basis superioritas laki-laki atas wanita dalam Alqur’an dan masyarakat bersifat relative tergantung pada kualitas masing-masing individu dan sama sekali bukan bersifat gender, maka penafsiran Alqur’an yang bias laki-laki selama ini harus dirumuskan kembali (Syafruddin, 1994).

Amina Wadud Muhsim menyatakan bahwa kalimat laki-laki adalah qowamun atas perempuan tidaklah dimaksudkan bahwa superioritas itu melekat pada setiap laki-laki secara otomatis sebab hal itu hanya terjadi secara fungsi onal, yaitu selama yang bersangkutan memenuhi criteria Alqur’an: memiliki kelebihan dan memberikan nafkah. Dan ini jelas tidak hanya berlaku bagi laki-laki melainkan juga bagi perempuan. Ayat itu sendiri tidak menyebutkan laki-laki otomatis superior atas perempuan. Yang dinyatakan adalah bahwa “Allah telah melebihkan sebagian mereka laki-laki (ba’dhahum) atas sebagian yang lain.” (Syafruddin, 1994).


Daftar Pustaka

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. 2004. Modul. Penyadaran Gender Bagi Pendidik. Propinsi Jawa Tengah: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.

Hamka. 1983. Tafsir Al Azhar Juzu’ V. Jakarta: Pustaka Panjimas

Hawari, Dadang. 1997. Alqur’an Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa. Yogyakartta: PT. Dana Bhakti Prima Yasa.

Rahmat, Jalaludin. 1994. Analisis Dari Psikologi Androsentris ke Psikologi Feminis Membongkar Mitos-mitos tentang Perempuan. Ulumul Qur’an. No.5 dan 6, vol.V, 12-28.

Syafruddin, Didin. 1994. Analisis Argumen Supremasi atas Perempuan Penafsiran Klasik Q.S. An Nisa: 34. Ulumul Qur’an. No.5 dan 6, vol.V, 4-10.

1 komentar:

tono mengatakan...

Ass.wr.wb.maaf Analisis Individu differeces perbedaan pria dan wanita, di blog anda saya copy untuk tambahan referenci saya dalam menyusun tesis kebetulan " Judul tesis saya " Analisis Perbedaan Orientasi ,Komtmen dan Kepuasaan Kerja terhadap Gender " maaf dan terima kasih.......